Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Bijak Menyikapi Perbedaan Seperti Ini [Yesaya 57:20]

Sejak awal manusia selalu hidup berdampingan dengan sesama, tetapi akan muncul perbedaan antara dirinya dengan orang lain. Seperti perbedaan agama, strata sosial, perilaku, dan perbedaan-perbedaan yang lainnya. 

Sejatinya hal itu adalah wajar, karena Allah menciptakan manusia itu berbeda. Baik dalam hal fisik, status sosial, latar belakang, background pendidikan dan lain sebagainya. Sehingga komunitas manusia yang hidup dalam keberagaman tidak bisa dihindari.

a. Ragam permasalahan yang disebabkan oleh perbedaan

Akibat perbedaan persoalan besar bisa terjadi. Yakni ketika sesama manusia tidak siap dengan segala keberagaman yang ada di sekitarnya. Sehingga sering menilai, dan menyimpulkan hal yang salah. Bahkan merasa telah mengalami ketidakadilan akibat suatu perbedaan.

Hal yang sama juga pernah terjadi dalam satu fase kehidupan bangsa Israel. Waktu itu mereka harus hidup/tinggal bersama-sama dengan orang-orang yang berbeda dengan mereka. 

Yaitu orang-orang yang dikategorikan sebagai orang fasik, yang hidup tanpa aturan Allah, yang menyerahkan diri dan menyembah dewa Molokh. Namun justru kelihatan hidup mereka yang lebih nyaman, dibanding orang-orang yang setia kepada Allah. 

Lalu dalam situasi ini menyebabkan bangsa yang setia menanamkan pemahaman yang kontroversi. Seolah-olah bangsa yang tidak setia pada Allah justru mengalami hidup yang baik-baik saja. Sementara yang setia merasa ada praktik ketidakadilan. Sehingga kehidupan mereka menjadi lebih buruk.

b. Penyebab perbedaan semakin meruncing dan ganjarannya

Melalui nabi Jesaya, Tuhan ingin meneguhkan bangsa-Nya dengan mengatakan bahwa Allah kita adalah Allah yang dekat kepada orang yang setia dengan-Nya. Di samping itu, Allah yang berkeadilan justru akan menindak orang yang fasik, yang hidup di luar aturan Allah. 

Lalu, bagaimana kategori orang yang fasik?. Orang fasik adalah orang-orang yang sesungguhnya telah mengenal Tuhan dan mengetahui firman-Nya, tetapi tidak mau melakukan firman tersebut. Hal itu sekaligus membuktikan bahwa mereka meremehkan keberadaan Tuhan, serta tidak menganggap bahwa Tuhan itu ada. 

Singkatnya, orang fasik menganggap bahwa beribadah kepada Allah merupakan kesia-siaan. Padahal, hidup dengan cara ini kelak akan menerima ganjaran yang berat dari Allah. 

Realita hidup bangsa Israel waktu itu, sebagai orang benar yang hidup di tengah-tengah orang fasik, dan di tengah perbedaan pola hidup tersebut. Mereka harus menentang arus, sekaligus harus menghadapi ancaman dari orang-orang yang ada di sekitarnya. 

Tapi, karena hidup orang benar adalah hidup yang diwarnai oleh damai sejahtera dari Allah. Maka tidak perlu sangsi atau khawatir. Orang benar akan menerima sesuatu yang baik, sedangkan orang fasik akan menerima sesuatu yang buruk. 

Rasul Paulus pernah mengingatkan, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” (Gal. 6:7). 

Karena itu sebagai orang percaya, tidak perlu iri hati terhadap orang fasik. Tidak perlu merasa bahwa hidup tidak adil, tidak perlu menyimpulkan bahwa hidup orang fasik dipenuhi dengan kebahagiaan. 

Karena sejatinya hidup orang fasik itu adalah semu. Dan, sesungguhnya merekalah penyebab perbedaan semakin meruncing. Maka, pada saatnya Tuhan akan bertindak untuk melakukan pembalasan.

c. Keberadaan orang fasik dan cara menghadapinya 

Orang-orang fasik di mana pun berada, sama seperti laut yang bergelora. Mereka tidak akan merasa damai kalau tidak berbuat dosa. Oleh sebab itu, disebut seperti ombak laut yang penuh sampah dan lumpur. 

Sama seperti orang yang tidak bertobat, yang tidak pernah bisa menemukan damai sejahtera sejati. Akhirnya dimuntahkan seperti luapan muatan kapal yang kotor di pantai. 

Orang fasik atau orang jahat adalah seperti laut yang gelisah, ketika ia tidak dapat beristirahat. Dia diganggu oleh angin, badai, dan angin topan. Ketika ombaknya naik, mengamuk, dan bergolak, dan menghantam pantai dan pasir, dalam pergolakan seperti itulah pikiran orang jahat. 

Hati nurani mereka merasa terteror atas dosa-dosa yang mereka perbuat, atau mereka merasa gelisah atas kedengkian dan iri hati pada kebahagiaan dan kemakmuran orang lain. 

Demikianlah hati orang-orang fasik, yang tidak memiliki apa-apa, selain lumpur dan kotoran dosa di dalamnya. Tidak mengeluarkan apa pun selain buih-buih, dari rasa malu mereka sendiri, penghujatan terhadap Allah, dan kedengkian terhadap umat Allah.

Menghadapi orang fasik kita diminta untuk tetap bertahan dengan hidup dalam kebenaran. Tidak terpengaruh dengan kebahagiaan semu yang dipertontonkan. Karena nas ini tegas menyatakan bagaimana kelak kehidupan orang fasik, yaitu kebinasaan.

Maka dari itu tetaplah hidup benar. Walaupun kadang kita mengalami kesulitan, tetapi itu bukanlah ketidakadilan Tuhan. Justru dalam kesulitan Tuhan tengah memproses kita, untuk semakin matang dalam kesetiaan kepada-Nya. 

- Lampiran ayat renungan

Yesaya 57 ayat 20: “Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang, dan arusnya menimbulkan sampah dan lumpur.”

Amin.

Posting Komentar untuk "Cara Bijak Menyikapi Perbedaan Seperti Ini [Yesaya 57:20]"